Sabtu, 25 September 2010

INTEGRASI ANTARA SISTEM INFORMASI GEOGRAFI DAN PENGINDERAAN JAUH



INTEGRASI ANTARA SISTEM INFORMASI GEOGRAFI

DAN PENGINDERAAN JAUH

OLEH :

YUDHI WIDIASTOMO

L2D009007

JURUSAN PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS DIPONEGORO

SEMARANG

2009


BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sistem Informasi Geografi (SIG) atau Geographic Information System (GIS) adalah suatu sistem informasi yang dirancang untuk bekerja dengan data yang bereferensi spasial atau berkoordinat geografi atau dengan kata lain suatu SIG adalah suatu sistem basis data dengan kemampuan khusus untuk menangani data yang bereferensi keruangan (spasial) bersamaan dengan seperangkat operasi kerja (Barus dan Wiradisastra, 2000). Sedangkan menurut Anon (2001) Sistem Informasi geografi adalah suatu sistem Informasi yang dapat memadukan antara data grafis (spasial) dengan data teks (atribut) objek yang dihubungkan secara geogrfis di bumi (georeference). Disamping itu, SIG juga dapat menggabungkan data, mengatur data dan melakukan analisis data yang akhirnya akan menghasilkan keluaran yang dapat dijadikan acuan dalam pengambilan keputusan pada masalah yang berhubungan dengan geografi.

Sedangkan penginderaan jauh merupakan suatu metode untuk pengenalan dan penentuan objek dipermukaan bumi tanpa harus melakukan kontak langsung dengan objek tersebut. Data pengunderaan ajauh dapat bersifat kontinyu karena mempunyai resolusi temporal, dapat digunakan untuk berbagai aplikasi karena resolusi spektralnya dan ditampilkan dalam berbagai bentuk skala karena resolusi spasialnya. Penginderaan jauh mempunyai kemampuan untuk menghasilkan data spasial yang susunan geometrinya mendekati keadaan sebenarnya dari permukaan bumi dalam jumlah yang banyak dan waktu yang cepat.

Penginderaan jauh tidak pernah lepas dari Sistem Informasi Geografi (SIG). Oleh karena itu, dalam makalah ini akan dibahas integrasi antara Sistem Informasi Geografi dan Penginderaan Jauh secara lebih detail.

B. Tujuan

Diharapkan dengan adanya tugas ini mahasiswa mampu memahami integrasi antara penginderaan jauh dan sistem informasi geografis serta dapat mengaplikasikannya dalam kehidupan khususnya dalam bidang perencanaan wilayah dan kota.


BAB II

PEMBAHASAN

Pada dasarnya penginderaan jauh tidak pernah lepas dari Sistem Informasi Geografi (SIG). Data-data spasial hasil penginderaan jauh merupakan salah satu data dasar yang dipergunakan dalam analisis SIG. Dalam perkembangannya data-data SIG juga berguna dalam pengolahan data penginderaan jauh (Barus dan Wiradisastra, 2000). SIG sangat baik dalam proses manajemen data, baik itu data atribut maupun data spasialnya. Integrasi antara data spasial dan data atribut dalam suatu sistem terkomputerisasi yang bereferensi geografi merupakan keunggulan dari SIG.

Data Penginderaan Jauh dapat dikatakan sebagai sumber data yang terpenting bagi SIG karena ketersediaannya secara berkala. Dengan adanya bermacam-macam satelit di ruang angkasa dengan spesifikasinya masing-masing, kita bisa menerima berbagai jenis citra satelit untuk beragam tujuan pemakaian. Data ini biasanya direpresentasikan dalam format raster seperti citra satelit dan foto udara.

Citra penginderaan jauh yang berupa foto udara atau dapat diinterpretasi terlebih dahulu sebelum dikonversi kedalam bentuk digital. Sedangkan citra yang diperoleh dari satelit yang sudah dalam bentuk digital dapat langsung digunakan setelah diadakan koreksi seperlunya. Lebih lanjut dinyatakan ketiga sumber tersebut saling mendukung satu terhadap yang lain. Data lapangan dapat digunakan untuk membuat peta fisik, sedangkan data penginderaan jauh juga memerlukan data lapangan untuk lebih memastikan kebenaran data tersebut. Jadi ketiga sumber data saling berkaitan, melengkapi dan mendukung, sehingga tidak boleh ada yang terabaikan.

Contohnya adalah perencanaan pengelolaan wilayah pesisir dengan memanfaatkan sistem informasi geografis dan penginderaan jauh. Data penginderaan jauh dapat menangkap dan mengindentifikasi berbagai macam objek di wilayah pesisir seperti rumput laut, terumbu karang, keadaan pasir, padang lamun, keberadaan mangrove, penggunaan lahan, serta sebaran vegetasi lainnya yang merupakan suatu ekosistem wilayah pesisir. Data-data tersebut bisa diintegrasikan dengan data-data SIG seperti batas administrasi, jumlah penduduk, kondisi jalan, kondisi sungai serta bentuk topografi suatu lahan maupun topografi pantai dan lautnya. Selain pemanfaatan data-data SIG tersebut, SIG juga dapat menganalisis data-data spasial sehingga memberikan bentuk lain dari data spasial masukkan sebelumnya yang akan berguna dalam menentukan nilai Indeks Kepekaan Lingkungan (IKL). Keunggulan dari SIG adalah kemampaunnya menangani data spasial bereferensi geografi yang berintegrasi dengan data atribut sehingga data-data tersebut dapat dianalisis bentuk keruangannya. Hasil analisis tersebut seperti panjang, luas, volume, keterkaitan, klasifikasi dan perkiraan yang berbentuk tampilan spasial. Keadaan tersebut diperoleh dari analisis dan manipulasi data spasial yang merupakan keunggulan lain dari SIG, adapun contoh analisis dan manipulasi data spasial yang dilakukan dalam SIG seperti overlay, interpolasi, buffering dan klasifikasi. Integrasi penginderaan jauh dan SIG pada suatu penelitian, khususnya dalam penentuan IKL diharapkan akan mampu mengefektifkan waktu dan biaya dengan tingkat ketelitian yang lebih baik serta terus bisa mengikuti perubahan lingkungan wilayah ekosistem wilayah tersebut. Selain menganalisis data, SIG juga mampu menghasilkan suatu peta tematik cukup cantik untuk yang diharapkan dapat membantu penanganan dan pemetaan tata ruang wilayah pesisr yang salah satu contohnya adalah peta tematik Indeks Kepekaan Lingkungan (IKL) wilayah pesisir.

Pengolahan data penginderaan jauh dengan memanfaatkan SIG diharapkan mampu memberikan informasi secara cepat dan tepat sehingga dapat digunakan sesegera mungkin untuk keperluan analisis dan manipulasi data.


BAB III

KESIMPULAN

Penginderaan jauh dan Sistem Informasi Geografis merupakan dua komponen penting yang tidak dapat dipisahkan. Kedua komponen ini saling berkaitan, mendukung, dan saling melengkapi sehingga tidak boleh ada yang terabaikan. Hal itu dikarenakan data Penginderaan Jauh dapat dikatakan sebagai sumber data yang terpenting bagi SIG karena ketersediaannya secara berkala. Data-data spasial hasil penginderaan jauh merupakan salah satu data dasar yang dipergunakan dalam analisis SIG. Oleh karena itu, pengolahan data penginderaan jauh dengan memanfaatkan SIG diharapkan mampu memberikan informasi secara cepat dan tepat sehingga dapat digunakan sesegera mungkin untuk keperluan analisis dan manipulasi data.


DAFTAR PUSTAKA

Banowati, Eva, dkk. 2007. Penginderaan Jauh dan Interpretasi Citra. Jurusan Geografi. Unnes Semarang.

Budiyanto, Eko. 2002. Sistem Informasi Geografis Menggunakan ArcView GIS. Yogyakarta : ANDI

http://202.51.30.138/gwan/MAKALAH/Aris_Poniman.pdf

http://digilib.unnes.ac.id/gsdl/collect/skripsi/index/assoc/HASHa085/e252b1e9.dir/doc.pdf

http://eksan.komite-sman2bjb.web.id/wp-content/uploads/2008/04/inderaja-11.pdf

http://mbojo.wordpress.com/2007/04/08/sistem-informasi-geografi-sig/

http://mbojo.wordpress.com/2008/02/27/gis-untuk-penginderaan-jauh-dan-indeks-vegetasi/

http://puguhdraharjo.wordpress.com/2009/05/29/integrasi-data-penginderaan-jauh-citra-landsat-tm-dan-srtm-untuk-deteksi-rawan-banjir-di-das-bengawan-solo/

http://www.gadjahmada.edu/index.php?page=rilis&artikel=150

Jumat, 24 September 2010

Critical Review Sistim Informasi Geografis (SIG)

Sistim Informasi Geografis (SIG) merupakan salah satu disiplin ilmu berbasis teknologi informasi yang berkembang begitu cepat akhir-akhir ini. Ide penyampaian informasi pada setiap titik koordinat bumi ini, semakin melejit seiring dengan perkembangan teknologi perekaman informasi melalui satelit. Hasil perekaman informasi terkait dengan kondisi fisik suatu wilayah melalui satelit, meskipun tidak sempurna, telah banyak digunakan untuk mensubstitusi perekaman informasi melalui survai lapangan yang butuh waktu lebih lama dan biaya yang relatif juga lebih mahal.

Dalam bidang perencanaan wilayah dan kota, ilmu ini memiliki peranan yang sangat penting. Menata ruang suatu wilayah membutuhkan dukungan data dan informasi, baik spasial maupun non spasial, yang akurat dan terkini, terutama data dan informasi tematik yang mengilustrasikan kondisi suatu wilayah. Perubahan kondisi wilayah pada daerah yang akan disusun rencana tata ruangnya, perlu dipahami dengan baik oleh para perencana, karena kualitas rencana tata ruang sangat ditentukan oleh pemahaman para perencana terhadap kondisi fisik wilayah perencanaan.

Dengan menggunakan teknologi informasi yang telah berkembang dengan pesat, sebagian data dan informasi spasial yang diperlukan dalam perencanaan tata

ruang dapat dibangun dalam sebuah sistem informasi yang berbasis pada

koordinat geografis yang lebih dikenal dengan sebutan Sistem Informasi Geografis (SIG). Seiring dengan perkembangan teknologi pengolahan data geografis, dalam SIG dimungkinkan penggabungan berbagai basis data dan informasi yang dikumpulkan melalui peta, citra satelit, maupun survai lapangan, yang kemudian dituangkan dalam layer-layer peta. Sistem informasi yang meng-overlay-kan beberapa layer tematik diatas peta dasar sungguh membantu proses analisa wilayah dan pemahaman kondisi wilayah bagi para perencana, serta dapat

menghemat waktu karena sebagian proses dilakukan oleh piranti lunak, sehingga dengan SIG proses perencanaan tata ruang dapat lebih efisien dan efektif.


Pembangunan fisik dan sosial di Indonesia terus ditingkatkan sesuai dengan meningkatnya jumlah penduduk dan berkembangnya kehidupan yang serba kompleks. Perkembangan tersebut mendorong perlunya informasi yang rinci tentang data sumber daya alam, yang mungkin dapat dikembangkan. Adapun anfaat SIG dalam bidang perencanaan wilayah dan kota diantaranya adalah sebagai berikut:

1. Untuk pendataan dan pengembangan jaringan transportasi.

2. Untuk pendataan dan pengembangan pusat-pusat pertumbuhan dan pembangunan.

3. Untuk pendataan dan pengembangan permukiman penduduk, kawasan industri, sekolah, rumah sakit, sarana hiburan dan rekreasi serta perkantoran.

4. Mengetahui luas dan persebaran lahan pertanian serta kemungkinan pola drainasenya.

5. Mengetahui potensi dan persebaran penduduk.

6. Untuk mengetahui persebaran berbagai sumber daya alam, misalnya minyak bumi, batubara, emas, besi dan barang tambang lainnya.

7. Untuk mengetahui persebaran kawasan lahan.

8. Untuk pengawasan daerah bencana alam.



DAFTAR PUSTAKA

Departemen pekerjaan umum

http://okayana.wordpress.com/2009/08/15/sistem-informasi-geografi-sig/

http://www.akropol.com.tr/muhendislik/GIS/yazilim/images/gis.jpg

CRITICAL REVIEW Urban And Regional Planning Oleh : Peter Hall

CRITICAL REVIEW

Urban And Regional Planning

Oleh: Peter Hall

Chapter 8

Oleh :

Kelompok 6

1. Yudhi Widiastomo L2D009007

2. Annisa Nur Fauziah L2D009027

3. Anggun Aprinasari L2D009057

4. Rarin Karisma Azahra L2D009061

5. Lupita Fajri Anisa L2D009089

6. Nia Fitria Indah L2D009107

7. Wahyu Yuliarto L2D009129

8. Syahreza Pratama L0D009135

JURUSAN PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS DIPONEGORO

SEMARANG
2009


CHAPTER 8

Planning in the United States since 1945

Banyak orang-orang di Eropa yang berpengetahuan luas memiliki terminologi yang bertentangan dalam hal perencanaan di negara-negara berkembang. Negara tersebut dipandang sebagai tempat dimana berkembangnya individualisme yang hanya berpedoman pada pembangunan ekonomi atau secara fisik mengunakan tanah. Hal-hal yang berhubungan dengan perencanaan, salah satunya adalah tentang wilayah yang dalam keadaan kritis, yang dimana tidak ada dilakukannya pengontrolan terhadap lahan untuk masyarakat. Fenomena yang terjadi di negara berkembang yang belum pernah terjadi sebelumnya dapat dilihat dari sumber daya alam yang tidak dapat tergantikan, sehingga mengakibatkan terjadinya permasalahan-permasalahan dalam bidang perekonomian.

Masalah Pembangunan Ekonomi

Perbandingan internasional yang terkenal sulit dan mungkin menyesatkan, terlihat jelas bahwa perbedaan regional dalam pembangunan ekonomi agak lebih besar
di
negara berkembang daripada di negara-negara Eropa Barat yang khas. Di Britania, misalnya, statistik resmi menunjukkan bahwa jika rata-rata pendapatan rumah tangga nasional ditetapkan pada 100, variasi regional (tahun 1999) berkisar dari 122 (dalam kasus London) untuk di atas 82 (di Timur Utara) atau hanya di bawah 82 (di Irlandia Utara). Di negara berkembang pendapatan rumah tangga rata-rata di tahun 1998-2000 adalah 126 (di Maryland, yang pada dasarnya merupakan daerah pinggiran kota antara Washington dan Baltimore), 70 (di wilayah Appalachiant Virginia Barat). Tentu saja, ukuran dan geografis gandum dari dua analisis sangat berbeda, jika seluruh Eropa Barat itu diambil sebagai perbandingan yang lebih tepat dengan negara-negara berkembang, yang menyebabkan perbedaan (seperti antara Luksemburg atau Hamburg di satu ekstrem dan bagian-bagian pedesaan Yunani atau Portugal di sisi lain) akan muncul lebih ekstrem. Tetapi selain harus diingat bahwa analisis terhadap wilayah sangat bervariasi, ada perbedaan yang besar dalam pembangunan ekonomi antara wilayah kota New York dan negara bagian New York, antara sumbu Detroit-Flint dan Michigan utara, atau antara Dallas-Houston Texas dan barat laut bagian dari negara. Apapun skala dan ukurannya, tingkat pembangunan ekonomi dan pendapatan pribadi tetap besar di negara berkembang seperti Amerika Serikat.

Pada umumnya, variasi ini dapat dikaitkan dengan karakter ekonomi. Daerah berpenghasilan tinggi di Amerika Serikat cenderung mengkhususkan di daerah perkotaan yang lebih baru, teknis yang digunakan adalah peralatan canggih atau industri jasa, mereka termasuk perkotaan besar dari negara-negara barat dengan ketergantungan mereka pada industri dirgantara kompleks, pada komputer dan sistem kontrol (Seattle, Los Angeles, Phoenix); Silicon Valley wilayah utara California; dan kota-kota Texas Houston, Dallas dan Fort Worth dengan kombinasi teknik yang lebih baru petrokimia dan industri, dan layanan canggih. Dan ini telah menjadi daerah di mana penduduk dan pekerjaan telah tumbuh. Sebaliknya, ada juga beberapa daerah yang lapangan kerjanya cenderung menurun, di bawah pengaruh baik penurunan permintaan atau meningkatkan efisiensi produksi. Salah satu kelompok mencakup wilayah seperti daerah-daerah pertanian di selatan-timur dan selatan-tengah negara bagian. Daerah industri lain di mana permintaan telah jatuh atau persaingan dari daerah lain yang telah parah mungkin juga menunjukkan gejala kemunduran; di antara mereka, kota tekstil di New England yang paling terkenal. Di 1970-an mereka bergabung dengan kota-kota lain yang paling menakutkan, mobil-manufaktur wilayah sekitar Detroit dan terkait baja dan rekayasa kota di Midwest dan utara-timur.

Analisis regional ini, bagaimanapun, menghilangkan fakta penting bahwa tingkat pendapatan dapat bervariasi lokal. Khas, dan makin, banyak daerah perkotaan Amerika menampilkan pola berpenghasilan rendah inti sering membentang di atas wilayah yang cukup luas untuk memeluk sebagian besar, jika tidak semua, dari kota dimasukkan, dan sebagian besar terdiri dari orang-orang daerah pemukiman berkembang sebelum Perang Dunia Kedua dikelilingi oleh pendapatan yang lebih tinggi pinggiran kota. Itu penjelasan pola ini terletak baik dalam ekonomi dan sosial. Tapi sejak Kedua Perang Dunia telah dipercepat terjadinya ledakan bangunan pinggiran kota dan migrasi massa berpenghasilan rendah, keterampilan pekerja rendah pada 1950-an dan 1960-an, Afrika Amerika dari pedesaan Selatan; pada 1970-an dan 1980-an, orang Latin dari Puerto Rico, Meksiko dan bagian lain dari Amerika Latin menjadi daerah batin yang besar dan beberapa kota-kota utara selatan dan barat yang (San Francisco, Los Angeles, Houston). Fenomena ini secara tradisional, imigran miskin di Amerika Serikat sendiri pertama kali didirikan di pusat kota, bergerak keluar ketika mereka memperoleh pendapatan dan pengetahuan. Tetapi karena sebagian besar imigran baru secara etnis atau budaya yang berbeda, mereka menderita di usaha mereka untuk mengikuti rute tradisional ini ke luar, dan karena pekerjaan yang dibayar lebih tinggi bergerak keluar sementara dibayar lebih rendah, kurang terampil pekerjaan cenderung tetap, mereka cenderung semakin terjebak dalam lingkaran kemiskinan batin dan kurangnya kesempatan.

Mesin Pembangunan Ekonomi

Sampai tahun 1960-an mesin untuk pembangunan ekonomi regional di Amerika Serikat cenderung sangat lokal. Jadi tahun 1930-an dan 1940-an skema besar untuk regenerasi Tennessee Valley, yang membentang melalui tujuh negara di jantung Selatan, yaitu perencanaan pembangunan yang terpadu kuat, persediaan air, banjir dan erosi, perencanaan rekreasi, industri baru, dan pembangunan dalam bidang pertanian; tetapi, meskipun pusat dari administrasi Roosevelt's dengan kebijakan baru yang disepakati pertengahan 1930-an, itu tidak ditiru pada setiap skala yang sama di tempat lain. Setelah Perang Dunia Kedua, seperti di Britania, dorongan untuk pembangunan daerah cenderung memudar di bawah pengaruh umum pekerjaan dan luas penuh kemakmuran. Demikian pada awal 1960-an dua-pertiga dari wilayah pasar tenaga kerja Amerika Serikat telah pengangguran sebesar 6 persen atau lebih. Sehingga upaya yang dilakukan dalam masalah ini, pada tahun 1961 di Departemen Perdagangan didirikannya Area Redevelopment Administrasi (ARA) untuk membantu daerah dengan pengangguran yang tinggi atau rendah pendapatan lokal, diberikan kuasa untuk memberikan pinjaman kepada usaha kecil dan untuk memberikan pinjaman atau hibah (hingga 100 persen dari biaya) dalam menghormati infrastruktur publik; sebagai syarat bantuan, daerah setempat harus mempersiapkan program pembangunan ekonomi secara keseluruhan.

Percepatan Pekerjaan Umum Undang-undang, pada tahun 1962, memberikan lebih jauh lagi ARA dana untuk hibah untuk menyediakan infrastruktur. Tetapi tidak ada strategi keseluruhan untuk mendistribusikan bantuan dari pusat, sebagian karena terlalu sedikit kebutuhan dan tekanan politik yang terus-menerus. Seperti biasa kecenderungan ini untuk mencapai dampak yang diperlukan. Pada tahun 1965 ini adalah kritik yang dihadapi Pekerjaan Umum dan Pembangunan Ekonomi Undang-undang, yaitu mengubah Pembangunan Wilayah Administrasi ke Ekonomi Pengembangan Administrasi, dengan dana yang lebih besar akan terkonsentrasi dalam jumlah terbatas wilayah utama yang didefinisikan dalam Undang-Undang. Pertama, ada pembangunan kembali daerah-daerah dengan masalah-masalah ekonomi yang serius dan dengan keluarga rata-rata pendapatan 40 persen atau lebih di bawah rata-rata nasional. Kedua, penggabungan ekonomi pembangunan daerah setidaknya dua pembangunan kembali daerah dan kota besar mampu bertindak sebagai pusat pertumbuhan untuk mereka. Ketiga, komisi perencanaan daerah dapat diatur untuk daerah-daerah yang menyerbu garis negara, seperti Ozarks, atas Great Danau dan Four Corners (Arizona-New Mexico-Colorado-Utah) di barat gunung-gunung dan padang pasir.

Pada tahun 1965 wilayah Appalachian mendirikan Appalachian Komisi Daerah, dalam berbagai cara dengan harapan mewakili percobaan. Di sini, di dataran tinggi besar ini massa yang membentang dari New England ke Deep Selatan dan yang memisahkan konsentrasi besar populasi di pantai timur Amerika Utara dan kepadatannya hampir sama di negara bagian Midwestern, masalah berdua fisik dan manusia. Bergulat dengan masalah ini,
Komisi mengawasi injeksi ke wilayah sebesar $ 679 juta pada
tahun 1965 (inklusif) sendirian. Namun perlu dicatat bahwa tidak kurang dari $ 470 million pada program konstruksi jalan raya, dengan tujuan untuk meningkatkan aksesibilitas daerah ke dunia luar dan kontak dalam bagian yang berbeda dari daerah itu sendiri. Menurut definisi, di Amerika Serikat ini sulit untuk menyelesaikan masalah-masalh yang terjadi karena ukuran besar daerah tersebut dan isolasi dari bidang dinamika ekonomi riil, sehingga meskipun Komisi Appalachian dibuat upaya sadar untuk mengembangkan kebijakan pusat-pusat pertumbuhan di dalam wilayah, akan tetapi masih banyak ratusan mil jauh dari daerah industri utama untuk migran yang masih bergerak.

Metropolitan Pertumbuhan dan Perubahan

Setelah berakhirnya perang Amerika Serikat, ada tiga migrasi manusia yaitu :

1. Migrasi pekerja dan keluarga Afrika-Amerika yaitu dari pedesaan diselatan ke kota-kota bagian utara.

2. Migrasi penduduk berkulit putih dari pusat kota-kota metropolitan ke daerah pinggiran kota.

3. Pada abad ke-20, gelombang yang terbesar dari luar negeri, terutama dari orang-orang Hispanik asal dari Puerto Rico, dari Meksiko, dari bagian lain di Amerika Latin dan dari Kuba, dan di Pasifik dari negara-negara Asia Timur seperti Cina, Taiwan, Korea, Hong Kong, Vietnam dan Filipina.

Dari tiga migrasi di atas dihasilkan progresif penduduk antara penduduk kota di bagian utara dengan populasi etnis yang minoritas. Tujuan dari migrasi tersebut adalah memperbaikan keadaan ekonomi dan status sosial.

Pada tahun 1934, telah diciptakannya Federal Housing Administration (FHA), yang produknya dari kebijakan Roosevelt; pada tahun 1949 Undang-Undang Perumahan mendirikan Housing Act established a Housing and Home Finance Agency (HHFA) untuk mengkoordinasikan kegiatan FHA dan lembaga resmi lainnya. Dari awal, penekanan tersebut adalah pada HHFA pembelian rumah baru; pinjaman mudah tersedia, di atas 10 persen dasar pembayarannya menurun dari FHA, dan suku bunga yang rendah di pertama. Didirikannya konstruksi FHA dan standar penilaian saat ini menjadikan seluruh bangunan industri dan meningkatkan kualitas dan keandalan konstruksi rumah baru. Logikanya, perumahan baru dibangun di atas tanah yang sebelumnya belum berkembang hal tersebut dapat dilihat seperti pada gambar 8.1 dibawah ini.

Plate 8.1 Levittown-Fairless Hills, New Jersey, USA: postwar suburban development in the Atlantic urban region. Low-density single-family homes occupy subdivisions, with much leapfrogging of urban development over patches of vacant land. Commuting and movement generally in such areas depend almost exclusively on the private car.

Seperti pada gambar diatas, daerah pinggiran kota yang baru itu biasanya terlalu jauh dari kota, sehingga membuat penduduk untuk memiliki kendaraan pribadi. Dengan demikian terjadinya perkembangan pusat-pusat perbelanjaan baru, atau di antara, yang pinggiran kota baru, yang pada umumnya persaingan pusat-pusat perkotaan yang lebih tua dalam skala dan umumnya unggul dalam desain (Gambar 8.2). Pada tahun 1950-an dan 1960-an pekerjaan juga cenderung untuk desentralisasi, sehingga pekerjaan manufaktur berhubungan dengan pergudangan, dan layanan pekerjaan tersebut terikat ke kebutuhan penduduk pinggiran kota, dalam tahun 1970-an dan 1980-an, rutin pekerjaan kantor dan bahkan kantor pusat, yang diambil dari pusat kota tradisional denga harapan harga tanah lebih murah dan meningkatnya ketersediaan tenaga kerja di sebelah pinggiran kota. Setelah pertengahan 1950-an program pembangunan jalan tol (jalan raya) sangat memudahkan perjalanan dari pinggiran kota ke pinggiran komuter, lebih lanjut membantu para tren (Gambar 8.3). Perumahan pinggiran kota pasti melakukan layanan yang berharga bagi banyak jutaan Amerika khususnya mereka yang berkeluarga, yang terdiri atas catatan total pada 1950-an. Akhirnya, dengan kenaikan harga terus-menerus, ditemukan hasil penlitian bahwa pembelian tersebut adalah pagar yang berguna terhadap inflasi, terutama ketika harga
meningkat tajam seperti pada pertengahan 1970-an.

Plate 8.2 Milford Center, Milford, Connecticut, USA. Located in the fast-growing suburban zone outside New York City, this is a good example of the suburban, edge-of-town, new shopping centres that have developed on a large scale for car-based shoppers in the United States since the Second World War.

Plate 8.3 Freeway interchange in Los Angeles. The southern Californian metropolis, with a population of over 10 million in the 1970s, has developed almost entirely in the era of mass car ownership since 1920. Thus it has grown quite differently from older cities, with wide dispersion of jobs and homes and a generally low density of development. Long-distance commuting is made possible by hundreds of miles of freeways which criss-cross the vast urban area – now nearly 100 miles (160 km) across.

Perencanaan Kekuatan dan Kebijakan

Dalam hal ini yang dipermasalahannya adalah federal dan masalah-masalah tradisional penting dalam negeri, yang tentunya termasuk dalam perencanaan dan pemerintah daerah, agar urusan tersebut diserahkan kepada negara telah melakukan kebijakan seperti:

1. Kekuasaan dan pengaruh pemerintah federal dalam urusan domestik, khususnya melalui penggunaan dana federal, telah diakui meningkat dan sangat mencolok sejak Perang Dunia Kedua, dalam hal ini kepentingan daerah, terutama pada 1960-an. Tetapi perbedaan-perbedaan negara harus selalu diingat.

2. Pemerintah lokal Amerika biasanya kurang rapi dan lebih kompleks daripada Eropa; layanan yang diberikan oleh keanekaragaman, sehingga dibuat satu tujuan lembaga, seperti komisi perencanaan, dewan pendidikan atau saluran pembuangan komisi, bahwa seorang warga negara dapat hidup di dalam wilayah skor unit pemerintahan lokal yang berbeda, dan beberapa dari mereka dengan batas-batas yang berbeda. Karena badan-badan ini dikontrol secara terpisah (dan dipilih secara terpisah), tidak ada alasan logis bagi mereka untuk bekerja sama.

Dengan peran yang sangat kuat di badan-badan swasta proses pembangunan perkotaan, ini berarti bahwa ada sangat banyak lagi agen yang berbeda
atau aktor yang terkait dengan pertumbuhan perkotaan dan perubahan daripada dalam situasi yang khas Eropa,
fakta yang membuat seluruh proses menjadi lebih sulit untuk digambarkan dalam praktek untuk mengontrol. Di tingkat atas ada badan pemerintah federal untuk perumahan dan perencanaan di Departemen Perumahan dan Pembangunan Perkotaan (HUD). Ini adalah setara terdekat untuk departemen Eropa seperti Britain's tua Kementerian Perumahan dan Lokal Pemerintah sebelum dimasukkannya di Departemen Lingkungan Hidup; dan transaksi yang bukan transportasi, ditangani oleh Departemen Perhubungan atau dengan taman nasional, yang sejak awal telah secara tradisional merupakan tanggung jawab Departemen Dalam Negeri. Tapi mungkin titik yang paling signifikan tentang HUD adalah bahwa hanya didirikan pada tahun 1966, setelah cukup pahit oposisi politik; dimana waktu itu, sebenarnya tidak ada badan pusat di tingkat federal menangani kompleks masalah yang diajukan oleh pertumbuhan perkotaan. HUD mewarisi tanggung jawab untuk berbagai dari instansi terkait dengan perumahan, yang di bawah naungan Housing and Home Finance Organization di tahun 1949. Akan tetapi yang lebih penting adalah diberikannya tanggung jawab baru yang luas di bidang perencanaan wilayah metropolitan.

Pada tahun-tahun setelah penciptaan, HUD pertama kali menjadi bertanggung jawab
untuk program Kota Model
yang disahkan oleh Kongres pada tahun 1966, di mana kota-kota tersebut dibantu oleh Washington untuk mengadopsi komprehensif dengan pendekatan masalah perumahan, pembaruan, pelatihan kerja, pendidikan, kesehatan dan kesejahteraan. Kemudian, pada tahun 1968, HUD berpaling kepada penciptaan baru masyarakat dengan bantuan federal. Perumahan dan Pembangunan Perkotaan UU tahun itu dibuat dana yang tersedia untuk menutupi masa transisi yang sulit ketika berat investasi yang diperlukan. Perumahan Undang-undang, pada tahun 1970, memberikan dana tambahan sederhana untuk penciptaan komunitas baru. Tujuan spesifik adalah untuk menyalurkan suatu bagian penting dari pertumbuhan penduduk metropolitan masa depan diperkirakan pada tahun 1968 dan pada tahun 2000 75 juta penduduk akan jauh dari pinggiran kota. Khususnya bagian dari program ini akan menciptakan kota-kota baru di kota melalui kemitraan publik-swasta.

Perkembangan yang paling signifikan pada awal tahun 1970-an, di bawah pemerintahan Nixon, adalah pembagian pendapatan. Ini bertujuan untuk pergeseran pelaksanaan program-program untuk negara bagian dan lokal pemerintah, sehingga menghilangkan birokrasi federal. Namun efek langsung sulit bagi yang lebih besar, penurunan kota-kota: pendanaan mereka meningkat, namun kurang cepat daripada
di selatan dan barat kota dan kurang cepat daripada kebutuhan mereka.
Program penting lainnya baru kali ini yang secara komprehensif dalam hal tenaga kerjanya. Pada akhir 1970-an mereka mendapat 40-50 persen dari total dana untuk pembangunan ekonomi, pembangunan fisik dan dukungan fiskal. Tetapi anggaran pemotongan, pada tahun 1981, mengancam akan memangkas program ini dan untuk memperburuk penderitaan
kota
yang menurun pada saat basis ekonomi mereka akan terkikis. Dalam hal ini, HUD dapat memberikan pengaruh besar pada pemerintah daerah di seluruh Amerika Serikat oleh kontrol atas dana federal. Bahkan sebelum menjadi ada, itu telah meletakkan bahwa untuk mendapatkan uang jalan raya federal, daerah setempat harus terlibat dalam perencanaan yang komprehensif.

Pada tingkat pemerintah daerah, beberapa komplikasi memaksakan kehendak. Yang pertama adalah banyaknya lembaga; ini berarti bahwa bahkan di mana sejumlah papan atau komisi yang terpisah beroperasi di wilayah geografis yang sama, operasi mereka tidak
mungkin harus dikoordinasikan dengan cara apapun oleh unit pengelolaan pusat, seperti yang akan terjadi di Inggris atau Eropa rata-rata unit pemerintah lokal. Jadi komisi
tersebut sebagai potensi besar pengaruhnya terhadap pembangunan perkotaan yang disebut perencanaan komisi, tetapi semua ini adalah lembaga yang terpisah, masing-masing akan megindependen dengan caranya sendiri. Bahkan, sebenarnya inti dari sistem Amerika penggunaan lahan kontrol tidak berencana, tetapi zonasi. Tapi ini secara resmi dipisahkan dari sistem perencanaan, dan dikelola oleh sebuah komisi yang terpisah untuk setiap wilayah kewenangan daerah, tdak perlu mengambil putusan dari rencana (jika ada), dan pada dasarnya adalah sistem negatif terbatas dan kontrol atas perubahan dalam
penggunaan lahan.

Maka dari itu kesimpulannya adalah bahwa pada tingkat daerah yang lebih luas, biayanya lebih besar dari berbagai program-program pembangunan tidak menghasilkan apapun. Terlalu banyaknya dana yang telah menyebar di seluruh negeri tanpa pandang bulu, di antara kedua daerah di kebutuhan besar dan area dalam waktu kurang perlu. Hal ini dikarenakan filosofi pembangunan ekonomi, didasarkan pada analisis tujuan dan sasaran, belum jelas yang bekerja diluar di pusat. Seperti tujuan presentasi akan perlu memperhitungkan sering bertentangan pertimbangan hubungan geografis, pengelolaan alam sumber daya, dan pelestarian lingkungan. Sehingga akan munculnya harapan untuk daerah dan wilayah di mana pertumbuhan harus positif didorong, yang tidak ada bantuan khusus diperlukan. Sebagai akibat dari kegagalan ini, tidak ada keraguan bahwa kontemporer Amerika Serikat mungkin dapat ke tingkat yang lebih besar daripada negara Eropa Barat. Hal ini dapat dilihat pada sisi luas difusi tingkat yang sangat tinggi kekayaan materi; di sisi lain, minoritas hidup dalam kemiskinan yang mencolok hanya karena hal tersebut sangat jauh di bawah tingkat umum. Di satu tangan, konstruksi besar prestasi di bidang-bidang seperti perumahan pinggiran kota dan baru jalan raya; di sisi lain, kelumpuhan dan kerusakan di pusat kota.Di satu sisi, umum swasta pada tingkat kekayaan tidak menyaksikan di tempat lain di dunia, di sisi lain, di beberapa tempat, kemelaratan publik nyata dalam bentuk pemandangan dan perkotaan suram pembusukan.